FK – Keresahan melanda para orang tua siswa di SMA Negeri Bikomi Utara, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Salah satu oknum Kepala Sekolah (Kepsek) diduga mempekerjakan siswa saat jam belajar mengajar, memicu kemarahan dan keprihatinan di kalangan orang tua.

Salah satu orang tua siswa yang ditemui media ini mengungkapkan kekhawatirannya. “Kami sebagai orang tua dari siswa menduga bahwa oknum kepsek tersebut hanya menjadikan siswa kuli bangunan di sekolahnya,” ujar orang tua tersebut yang memilih untuk tidak disebutkan namanya.

Kepsek SMA NEGERI BIKOMI UTARA,Kab.TTU, Ewalde Usnaat, S.Pd

Ia menambahkan bahwa siswa yang masih berseragam terlihat bekerja membuat fenderan bangunan di sekolah tanpa alat keselamatan kerja. Selain itu, para siswa juga disuruh membuat pagar keliling sekolah.

Menurut informasi yang diperoleh, kegiatan ini telah berlangsung selama tiga hari, mulai dari Selasa hingga Kamis. Para siswa bekerja di saat jam sekolah, yang seharusnya digunakan untuk proses belajar mengajar.

“Kami sangat cemas dengan anak-anak kami. Seharusnya mereka datang ke sekolah untuk belajar, bukan untuk bekerja sebagai kuli bangunan,” tambahnya.

Kepala Sekolah SMA Bikomi Utara, berinisial EU, saat dikonfirmasi oleh media ini, mengakui bahwa siswa memang dilibatkan dalam pengerjaan pagar keliling sekolah. Namun, ia menegaskan bahwa pekerjaan tersebut tidak dilakukan selama jam belajar.

“Kami menggunakan tenaga siswa bukan di jam belajar, tetapi melihat situasi dan keadaan di lokasi tersebut,” jelasnya.

EU juga menyebutkan bahwa pihak sekolah sedang dalam proses pembagian tugas mengajar dan penyusunan roster untuk dua kurikulum yang berbeda, yaitu Kurikulum Merdeka dan K13.

“Untuk sementara, kami masih mempelajari kurikulum baru. Daripada siswa tidak melakukan apa-apa, kami melatih mereka membuat pagar indah sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka, yang menekankan keterampilan kerja setelah tamat dari SMA,” tambahnya.

Namun, penjelasan ini tidak memuaskan para orang tua. Mereka menilai bahwa siswa seharusnya fokus pada kegiatan belajar mengajar, bukan pekerjaan fisik yang bisa membahayakan keselamatan mereka.

“Kami sudah tanya dan cek di sekolah bahwa roster sudah ada. Tetapi herannya, anak-anak kami sudah beberapa hari berturut-turut dipekerjakan. Apakah memang dana komite sekolah tidak ada? Kami minta Kepsek tersebut menjelaskan secara detail kepada kami, orang tua,” tegas salah satu orang tua siswa.

Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan terhadap kegiatan di sekolah dan memastikan bahwa siswa mendapatkan pendidikan yang layak sesuai dengan hak mereka.

Orang tua berharap ada tindakan tegas dari pihak berwenang untuk menyelesaikan masalah ini dan mengembalikan fokus sekolah pada kegiatan belajar mengajar yang sebenarnya.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.