“Kami menggunakan tenaga siswa bukan di jam belajar, tetapi melihat situasi dan keadaan di lokasi tersebut,” jelasnya.

EU juga menyebutkan bahwa pihak sekolah sedang dalam proses pembagian tugas mengajar dan penyusunan roster untuk dua kurikulum yang berbeda, yaitu Kurikulum Merdeka dan K13.

“Untuk sementara, kami masih mempelajari kurikulum baru. Daripada siswa tidak melakukan apa-apa, kami melatih mereka membuat pagar indah sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka, yang menekankan keterampilan kerja setelah tamat dari SMA,” tambahnya.

Namun, penjelasan ini tidak memuaskan para orang tua. Mereka menilai bahwa siswa seharusnya fokus pada kegiatan belajar mengajar, bukan pekerjaan fisik yang bisa membahayakan keselamatan mereka.

“Kami sudah tanya dan cek di sekolah bahwa roster sudah ada. Tetapi herannya, anak-anak kami sudah beberapa hari berturut-turut dipekerjakan. Apakah memang dana komite sekolah tidak ada? Kami minta Kepsek tersebut menjelaskan secara detail kepada kami, orang tua,” tegas salah satu orang tua siswa.

Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan terhadap kegiatan di sekolah dan memastikan bahwa siswa mendapatkan pendidikan yang layak sesuai dengan hak mereka.

Orang tua berharap ada tindakan tegas dari pihak berwenang untuk menyelesaikan masalah ini dan mengembalikan fokus sekolah pada kegiatan belajar mengajar yang sebenarnya.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.